Jurnal Skripsi

Posted: November 29, 2011 in Uncategorized

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS-GAMES-TOURNAMENT (TGT) TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

M. Hasby Romadan TW

 

ABSTRACT

 

This research has purpose to detect the influence of usage study model cooperative tipe teams-games-tournament (TGT) about result of physics study a case study at the X year student of MA Al-Musyawirin Berembeng Central Lombok in academic 2010/2011. The population in this research is student X class of MA Al-Musyawirin Berembeng School Year 2010/2011. The research Sample is specified with technique “total sampling”. The sample of this research is all student of X class which amounting 62 student who divided in 2 parallel classes, where the XA class is experiment class  amounting 30 people and control class that is  XB class amounting 32 people. Data/information about result of learn Physics collected with test method, next on analyzed with ( uji-t) to answer raised hypothesis. The result of research indicate that there is the influence of usage study model cooperative tipe teams-games-tournament (TGT) about result of physics study a case study at the X year student of MA Al-Musyawirin Berembeng Central Lombok in academic 2010/2011.

 

Keywords : Teams-Games-Tournament (TGT), Result Of Physics Study

 

PENDAHULUAN

Permasalahan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia sampai saat ini adalah masih rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain proses pembelajaran yang tidak efektif sehingga belum mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas, kinerja guru yang hanya berorientasi pada penguasaan teori dan hafalan menjadikan pembelajaran tidak menarik sehingga menyebabkan kemampuan siswa tidak dapat berkembang secara optimal, profesionalisme guru yang dirasakan masih rendah terutama disebabkan oleh penyiapan pendidikan guru dan pengelolaan yang masih perlu ditingkatkan, distribusi guru yang tidak merata, pendayagunaan yang belum efisien dsb, (Hanafiah, dkk, 2009).

Mutu pendidikan merupakan bahan perbincangan yang selalu menarik dibicarakan, tidak hanya oleh pakar pendidikan, tetapi juga dikalangan masyarakat luas. Terlebih lagi mutu pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), karena IPA merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang banyak memberikan sumbangan terhadap perkembangan teknologi dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat, sehingga penguasaan terhadap IPA, khususnya Fisika perlu ditingkatkan.

Ilmu Fisika merupakan salah satu bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang erat kaitannya dengan fenomena-fenomena yang terjadi di alam atau dalam kehidupan sehari-hari. Fisika sebagai bagian dari IPA juga memberikan pengaruh yang cukup besar dalam menunjang perkembangan IPA dan teknologi. Hasil kemajuan IPA dan perencanaan teknologi di bidang Fisika dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya alat-alat transportasi, komunikasi, kedokteran, elektronika, pertanian, dan  lain-lain.

Pada dasarnya salah satu tujuan dari pendidikan IPA, khususnya Fisika yaitu menghantarkan siswa pada penguasaan konsep-konsep Fisika dan saling keterkaitannya, serta mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga pendidikan Fisika bukan hanya menjadikan siswa sekedar tahu dan hafal tentang konsep-konsep Fisika melainkan harus menjadikan siswa untuk  mengerti dan memahami konsep-konsep tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan bahwa sedikit sekali siswa yang tertarik pada pelajaran Fisika. Hal ini mungkin disebabkan oleh antara lain karena pengajaran Fisika yang kurang menarik, kurangnya rasa ingin tahu siswa serta materi yang begitu padat yang kebanyakan terdiri dari konsep-konsep dan rumus cenderung menjemukan siswa, dan banyak persepsi tentang pelajaran Fisika dianggap sebagai pelajaran yang sangat sulit dan membosankan entah itu di sekolah dasar maupun lanjutan.

Menyikapi hal tersebut, guru dituntut untuk dapat mengemas pembelajaran Fisika semenarik mungkin supaya siswa tertarik dan semangat dalam belajar Fisika. Oleh karena itu guru harus mempunyai teknik atau pendekatan agar siswa senang dan tertarik mempelajari IPA Fisika, serta memiliki rasa ingin tahu yang besar. Guru harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar, dan karenanya guru harus menguasai prinsip-prinsip mengajar di samping menguasai materi yang akan diajarkan. Dengan kata lain guru harus mampu menciptakan suatu situasi/kondisi belajar sebaik-baiknya.

Hasil studi tentang pembelajaran di sekolah menunjukkan bahwa model pembelajaran yang digunakan oleh sebagian besar guru/tenaga pengajar bersifat sangat teoritis dan lebih banyak menggunakan metode ceramah sehingga proses pembelajaran menjadi kurang menarik dan membosankan. Hal inilah yang terjadi di MA Al-Musyawirin Berembeng tempat penulis melakukan penelitian, dimana berdasarkan hasil observasi awal dan hasil wawancara, diperoleh bahwa selama ini guru Fisika di sekolah tersebut hanya menerapkan model pembelajaran yang monoton, yaitu model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah sehingga dalam proses pembelajaran siswa sering mengantuk, siswa hanya duduk, diam, dan mendengarkan tanpa ada respon/inisiatif untuk bertanya ataupun aktif dalam proses pembelajaran. Model ini ternyata masih perlu diperbaiki karena berdasarkan hasil observasi awal diperoleh juga bahwa nilai rata-rata kelas masih kurang dari KKM yang ditetapkan yaitu 65,00 dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 1

Daftar nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa kelas X Ma

Al-Musyawirin Berembeng tahun pelajaran 2009/2010

Kelas

Jumlah Siswa

Nilai rata-rata

Ketuntasan

XA

31

57,61

48,39 %

XB

32

55,97

40,63 %

Rata-rata

56,79

44,51 %

(Dokumentasi Sekolah, 2009)

Melihat permasalahan di atas, maka perlu dilakukan upaya peningkatan hasil belajar siswa yaitu dengan memperbaiki model pembelajarannya. Salah satu model yang bisa digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe teams-games-tournament (TGT) di mana pada model ini siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dan bersaing satu sama lain dalam kompetisi permainan (Belajar sambil bermain). Model ini digunakan karena diyakini akan mampu membangkitkan semangat belajar dan aktifitas siswa serta menumbuhkan kegembiraan sehingga kegiatan pembelajaran terasa tidak melelahkan, karena sebagian besar orang akan menemukan kesenangan dalam proses bermain. Setiap orang akan semangat dalam melakukan hal-hal yang dianggap menyenangkan, sehingga akan mengeluarkan tenaga dan pikiran seoptimal mungkin untuk melakukan hal yang dianggap menyenangkan tersebut.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT) terhadap hasil belajar Fisika siswa maka perlu dilakukan penelitian tentang hal itu, dalam hal ini dilakukan pada siswa kelas X MA Al – Musyawirin Berembeng Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011.

 

LANDASAN TEORITIS

 “Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif (cooperative learning ) adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Sedangkan Sunal dan Hans mengemukakan cooperative learning merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran. Selanjutnya Stahl menyatakan cooperative learning dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap tolong menolong dalam prilaku sosial” (Isjoni, 2010).

 

Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, dimana setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada siswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif siswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran kolaboratif yang sengaja dirancang untuk memberikan dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah; 1) setiap anggota memiliki peran, 2) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, 3) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman kelompoknya, 4) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, dan 5) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Isjoni, 2010). Sedangkan menurut Arends (2008), ciri-ciri belajar kooperatif adalah 1) siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan belajar, 2) tim dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah (heterogen), 3) jika mungkin, anggota tim berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda (heterogen), 4) penghargaan berorientasi pada kelompok maupun individu.

Kolompok belajar heterogen dalam pembelajaran kooperatif memiliki beberapa keuntungan yaitu (a) kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung. (b) kelompok heterogen dapat meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik, dan gender. (c) kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena adanya minimal satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, maka guru secara tidak langsung mendapatkan asisten.

Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif (kooperatif learning) dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al dalam Isjoni (2010) yaitu : (1) hasil belajar akademik, (2) penerimaan terhadap perbedaan individu (3) pengembangan keterampilan sosial.

Ada beberapa alasan mengapa pembelajaran kooperatif dikembangkan, pembelajaran kooperatif beberapa diantaranya memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial, menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois, meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial, meningkatkan motivasi belajar instrinsik dll.

Tabel 2. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif (Arends, 2008)

Fase

Indikator

Aktivitas Guru

1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa

2

Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi efisien

4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas

5

Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

6

Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok.

 

Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Teams Games Tournament (TGT). Teams Games Tournament (TGT) merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang heterogen yang kemudian bersaing satu sama lain dalam kompetisi permainan (Isjoni, 2009). TGT pada mulanya dikembangkan oleh David DeVeries dan Keith Edwards, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Menurut Slavin (2010), dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu:

  1. Mengajar (teach); Mempersentasekan atau menyajikan materi, menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi.
  2. Belajar kelompok (team study); Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 4-6 orang dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras/suku yang berbeda. Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi dengen menggunakan LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.
  3. Permainan (game tournament); Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing-masing kelompok yang berbeda. Para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang sama (homogen).
  4. Penghargaan kelompok (team recognition); Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rerata poin yang diperoleh oleh anggota kelompok dari permainan. tim akan direkognisi (diberi penghargaan) apabila mereka berhasil melampaui kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun kriteria pencapaian rerata poin yang dimaksud sebagai berikut:

Tabel 3. Kriteria penghargaan kelompok

Kriteria ( Rerata Kelompok )

Predikat

30 sampai 39

Tim Kurang baik

40 sampai 44

Tim Baik

45 sampai 49

Tik Baik Sekali

50 ke atas

Tim Istimewa

 

Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri – ciri sebagai  berikut (a) Siswa bekerja dalam kelompok, (b) Games tournament, dan (c) Penghargaan kelompok.

Game dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT menjadikan model pembelajaran ini sangat digemari karena menambahkan dimensi kegembiraan dalam proses pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran terasa tidak melelahkan, karena sebagian besar orang akan menemukan kesenangan dalam proses bermain.

Menurut Amrullah (2009), Games dapat meningkatkan kecerdasan berpikir, dan meningkatkan motivasi. Games ternyata bisa membawa banyak dampak positif bagi seorang anak, seperti meningkatkan kecerdasan, kreativitas, serta kemampuan dalam mengambil sebuah keputusan serta mampu memicu energi dan mood positif bagi gamer akan meningkatkan kreativitas.

Dunia anak tentunya tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bermain. Melalui bermain, anak dapat belajar banyak mengenai lingkungannya dan melatih berbagai keterampilan. Oleh karena itu kegiatan bermain merupakan elemen penting dalam mendorong perkembangan kognitif, fisik, sosial, dan emosional anak khususnya jenis permainan bebas yang tidak terstruktur, imaginatif, dan atas inisiatif anak.

Anak belajar melalui permainan. Bermain bukan hanya merupakan cara unik anak untuk belajar mengenai dunianya, tetapi juga cara seseorang untuk belajar tentang diri sendiri dan bagaimana seseorang menempatkan diri dalam dunianya, mengembangkan pengetahuan dan memperdalam pemahaman mereka melalui siklus belajar yang berulang-ulang. Bermain aktif juga mendorong pemaknaan akan suatu konsep secara personal. Anak akan lebih mudah mengingat situasi, ide, dan keterampilan yang dianggap relevan dengan kondisi dan keadaan mereka. Kegiatan belajar berbasis permainan juga memberikan kesempatan pada anak untuk mempelajari berbagai keterampilan serta mengembangkan perasaan kompeten dan percaya diri.

Merancang pembelajaran dengan pola bermain adalah salah satu hal yang dianjurkan. Terlebih untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Selain itu dalam membawakan materi dengan interaktif dan lucu sangat membantu, tidak kaku apalagi sampai beraroma galak.

Belajar dengan bermain dapat dilakukan dengan beragam macam kegiatan. Membuat quiz, games, dan kelompok belajar lebih memudahkan dalam penyerapan materi. Saat pembelajaran dilakukan, anak-anak akan merasa terlibat. Semua anggota badan akan terlibat sehingga saat otak lupa, tangan, kaki, mata, telinga, dan bagian otot yang lainnya akan mengingatkan.

Seperti semua teknik belajar, permainan bukanlah tujuan itu sendiri, melainkan sekedar sarana untuk mencapai tujuan, yaitu meningkatkan pembelajaran. Belajar sambil bermain harus memberikan hasil dalam proses pembelajaran. Agar dapat menambah nilai nyata pada proses belajar, maka bermain sambil belajar harus memberikan pengetahuan dan mendorong tindakan yang penting bagi keberhasilan kerja. Hal penting yang harus diperhatikan adalah jangan berlebihan dalam melakukan proses bermain sambil belajar, karena berlebihan dalam apa saja (termasuk bermain) dapat menghancurkan keefektifan belajar.

Permainan adalah bagian integral dari pendidikan yang diajarkan disekolah sejak permainan itu disediakan secara aktif dan menjadi pengalaman pembelajaran yang positif. Jika pembelajaran dilakukan melalui permainan-permainan maka akan memunculkan semangat belajar siswa, sehingga siswa akan sangat tidak sabar dan penuh rasa antusias mengikuti pelajaran.

Jangan gunakan paksaan dalam pembelajaran, tetapi biasakan pendidikan nyata (real) menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan anda akan lebih mudah menemukan bakat-bakat alami.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ini akan diuji pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. Hasil belajar itu sendiri didefinisikan sebagai tingkat pencapaian atau perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar, Sudjana (2009). Lebih lanjut Hamalik mengungkapkan bahwa Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan ketrampilan.

Menurut Hamalik (2009), hasil belajar menunjuk pada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator dan drajat adanya perubahan tingkahlaku siswa. Bukti yang nyata jika seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom, kategori hasil belajar dibedakan atas tiga ranah yaitu:

  1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual, meliputi pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
  2. Ranah afekif berkenaan dengan sikap, meliputi penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
  3. Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak, meliputi gerak reflek, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau kecepatan, gerakan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

 

Diantara ketiga ranah tersebut yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah adalah ranah kognitif, karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai bahan pelajaran. Dalam hal ini juga, hasil yang dimaksud berupa nilai kognitif siswa diatas standar yaitu ≥ 65. Hasil yang dimaksud adalah nilai yang diperoleh dari evaluasi siswa setelah dilaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai kurikulum yang berlaku.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian eksperiment dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di MA Al-Musyawirin Berembeng, pada bulan September 2010 sampai Oktober 2010. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MA Al-Musyawirin Berembeng Lombok Tengah tahun pelajaran 2010/2011, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Adapun jumlah siswa sebanyak 62 siswa yang terbagi dalam dua kelas paralel yaitu kelas XA, dan XB dengan masing-masing beranggotakan 30 dan 32 siswa. Sebagai kelas eksperimen yaitu kelas XA dan kelas kontrol yaitu kelas XB dengan teknik sampling yang digunakan adalah “total sampling”. Adapun perancangan penelitian ini akan dilaksanakan dengan desain sebagai berikut.

 

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif (pilihan ganda) yang telah di uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda dengan jumlah soal sebanyak 20 butir. Data hasil tes selanjutnya dianalisis dengan uji-t untuk mengetahui seberapa positif pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap hasil belajar siswa dengan membandingkan hasil belajar kelas eksperiment dan kelas kontrol.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil posttest diperoleh bahwa nilai rata-rata kelas eksperiment yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah 66,33, sedangkan untuk kelas kontrol yang hanya menggunakan model konvensional adalah 54,84. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh positif terhadap hasil belajar fisika siswa. Selanjutnya hasil tersebut dianalisis dengan uji-t untuk mencari perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kedua kelas. Hasil belajar dikatakan berbeda secara signifikan jika hasil thitung > ttabel pada taraf signifikan 5 %. Dari hasil uji-t diperoleh bahwa nilai thitung = 4,39 dan ttabel = 1,671. Hasil tersebut menunjukkan bahwa thitung > ttabel sehingga berdasarkan kriteria penerimaan maka hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar Fisika siswa kelas X MA Al – Musyawirain Berembeng Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011” diterima.

Jadi terdapat perbedaan yang signifikan antara penguasaan konsep Fisika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada taraf signifikansi 5%. Hal ini berarti bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TGT  berpengaruh positif terhadap hasil belajar Fisika siswa kelas eksperimen.

Hasil ini dapat dijadikan sebagai acuan pembinaan oleh pengelola pendidikan di MA Al-Musyawirin khususnya dan sekolah-sekolah lain pada umumnya untuk dapat mengembangkan model-model pembelajaran dan strategi mengajar supaya siswa merasa senang dan bersemangat dalam belajar. Dengan demikian sangat diharapkan kepada guru-guru agar dapat mengembangkan model, metode, dan strategi mengajar supaya pembelajaran menjadi PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) demi peningkatan kualitas hasil belajar berikutnya.

 

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa “ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar Fisika siswa kelas X MA Al – Musyawirain Berembeng Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2010/2011 pada pokok bahasan Gerak Lurus.

Berdasarkan hasil penelitian penulis menyarankan agar: 1) guru lebih kreatif dalam menciptakan maupun mengembangkan model, metode, maupun teknik mengajar supaya siswa menjadi termotivasi dan aktif dalam belajar sehingga proses pembelajaran menjadi efektif. 2) sekolah rutin dalam memberi pelatihan kepada guru-guru tentang model, metode dan tehnik-teknik mengajar di kelas. 3) Bagi para pembaca yang ingin menggunakan/menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe teams-games-tournament (TGT) ini dalam penelitian maupun dalam proses pembelajaran disekolah, agar mempersiapkan diri sebaik mungkin dari segala segi supaya hasil yang diperoleh bisa optimal demi perbaikan dimasa mendatang.